Artikel

HUKUM ISBAL DALAM ISLAM

10 September 2026 OSIS (furqon & numan)
HUKUM ISBAL DALAM ISLAM

Pernahkah kamu memperhatikan saudara-saudara kita sesama Muslim laki-laki yang mengenakan celana, sarung, atau gamis dengan ujung kain berada di atas mata kaki? Di zaman sekarang, penampilan ini kadang mengundang berbagai reaksi atau pertanyaan. Dalam Islam, hal ini berkaitan erat dengan pembahasan hukum Isbal.

Mari kita duduk sejenak dan menyelami tema ini dengan hati yang lapang. Apa sebenarnya isbal itu, dan bagaimana pandangan Sunnah menyikapinya?

Apa Itu Isbal?

Secara bahasa, isbal berarti menjulurkan atau melabuhkan pakaian. Dalam terminologi syariat, khususnya bagi laki-laki, isbal adalah menjulurkan ujung pakaian (baik itu celana, sarung, atau jubah) hingga melewati batas kedua mata kaki.

Pembahasan ini bermula dari hadits-hadits Rasulullah ﷺ yang memberikan peringatan mengenai batasan pakaian bagi seorang Muslim laki-laki. (Catatan: Hukum ini khusus untuk laki-laki, sedangkan bagi wanita Muslimah justru diwajibkan untuk menjulurkan pakaiannya guna menutup aurat kaki).

Ketegasan Dalil dan Bahaya Kesombongan

Islam sangat memperhatikan urusan hati. Tahukah kamu, di masa lalu (bahkan hingga kini), menjulurkan pakaian panjang hingga menyapu tanah adalah simbol status sosial, kebanggaan, dan kesombongan. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras melalui sabdanya:

“مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ”

“Apa yang berada di bawah kedua mata kaki dari kain sarung (pakaian), maka tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain yang lebih spesifik, Rasulullah ﷺ mengaitkan perbuatan ini dengan khuyala (kesombongan):

“مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ”

“Barangsiapa yang menjulurkan pakaiannya karena sombong, maka Allah ﷻ tidak akan melihatnya pada hari kiamat kelak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mendengar hadits ini, sahabat mulia Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu sempat khawatir. Beliau berkata kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah satu sisi sarungku sering melorot (melewati mata kaki) kecuali jika aku terus menjaganya."

Mendengar kekhawatiran sahabat terkasihnya itu, Rasulullah ﷺ dengan penuh kelembutan menenangkan, "Engkau bukanlah termasuk orang yang melakukannya karena sombong." (HR. Bukhari).

Hikmah Indah di Balik Meninggalkan Isbal (Laa Isbal)

Mungkin kamu bertanya-tanya, kalau tidak sombong, apakah boleh? Para ulama memang memiliki diskusi panjang dan perbedaan pendapat mengenai hukum isbal jika tanpa disertai kesombongan (ada yang mengharamkan mutlak, ada yang memakruhkan).

Namun, jika kita ingin mengambil jalan yang paling aman dan paling dekat dengan ketaatan utuh kepada Sunnah Rasulullah ﷺ, mengangkat pakaian di atas mata kaki (laa isbal) adalah pilihan terbaik. Ada hikmah luar biasa di baliknya:

  1. Melatih Ketawadhuan (Kerendahan Hati): Membiasakan diri memakai celana di atas mata kaki melatih jiwa kita untuk menundukkan ego dan menjauhi bibit-bibit kesombongan.

  2. Lebih Suci dan Bersih: Berpakaian di atas mata kaki menjaga kebersihan pakaianmu dari debu, kotoran, atau najis di jalanan, sehingga ibadah shalatmu menjadi lebih terjaga kesuciannya. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah menegur seorang pemuda yang pakaiannya menyapu tanah, "Angkat pakaianmu, itu lebih bertakwa kepada Tuhanmu dan lebih bersih bagi pakaianmu."

  3. Bukti Cinta pada Sunnah: Saat kamu memilih untuk menyesuaikan penampilan demi ketaatan, di situlah letak bukti cintamu kepada Rasulullah ﷺ dan Allah ﷻ.

Merangkul Perbedaan dengan Akhlak Mulia

Sahabat, ketaatan pada Sunnah harus selalu diiringi dengan akhlak yang indah. Bagi kamu yang saat ini sudah mempraktikkan laa isbal (celana di atas mata kaki), jagalah hatimu agar tidak terjangkiti penyakit ujub (merasa lebih suci) atau merendahkan saudara Muslim yang lain. Apalah gunanya pakaian di atas mata kaki jika hati dipenuhi kesombongan?

Sebaliknya, bagi kamu yang celananya masih melewati mata kaki, mari perlahan-lahan kita buka hati untuk mempelajari Sunnah ini lebih dalam. Tidak perlu terburu-buru menghakimi. Berpakaian sesuai Sunnah bukanlah sebuah tren atau aliran tertentu, melainkan wujud cinta seorang hamba yang berusaha taat kepada Sang Pencipta, Allah ﷻ, dan teladannya, Rasulullah ﷺ.

Semoga Allah ﷻ senantiasa melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran dan menghiasi diri kita dengan pakaian takwa, pakaian terbaik bagi seorang hamba.

Bagikan Kebaikan Ini: