Artikel

Mati Nalar Di Kandang Ormas

10 September 2026 OSIS (irsyad al-fahrizy)
Mati Nalar Di Kandang Ormas

Mati Nalar di Kandang Ormas

Pernahkah kamu memperhatikan barisan pengikut fanatik yang membela tokoh atau ormas kesayangannya mati-matian di ruang publik maupun media sosial? Perhatikan jari-jari mereka yang mengetik dengan penuh emosi, seolah sedang memperjuangkan harga diri harga mati. Mereka menyerang siapa saja yang berbeda pendapat, membawa-bawa argumen berlapis sentimen kelompok, tapi begitu ditanya dengan pertanyaan paling mendasar: "Apa dalil sahihnya?" atau "Di kitab mana rujukan dasarnya?"—jawabannya langsung beralih ke mode paling klise dan mematikan nalar: "Pokoknya kata guru saya begitu!" atau "Ormas saya tidak mungkin salah!"

Sumpah, ini bukan lagi soal loyalitas beragama atau kecintaan pada ilmu. Ini adalah mental kuli bangunan intelektual. Tugasnya cuma satu: mengangkut beban doktrin tanpa pernah mau peduli apa isi bangunan di dalamnya, kokoh berlandaskan dalil atau justru keropos penuh ambisi golongan, yang penting bos besar atau pimpinan kelompok sudah kasih instruksi.

Mari kita jujur pada diri sendiri dengan menanggalkan sejenak atribut kelompok yang melekat di badan. Selama ini, hidupmu ini sebenarnya sedang menyembah Tuhan Yang Maha Esa, atau sedang memperuhankan kartu anggota ormas, stempel kelompok, dan karisma seorang manusia yang darah dagingnya sama rapuhnya denganmu? Seolah-olah kepala dan akal sehatmu benar-benar sudah tidak ada di dirimu, melainkan telah diserahkan sepenuhnya ke kandang ormas untuk disetir ke sana ke mari.

Padahal, jauh-jauh hari Allah SWT telah memperingatkan bahaya menjadikan manusia sebagai penentu kebenaran mutlak tanpa ada dasar petunjuk yang benar. Dalam Surah At-Tawbah ayat 31, Allah berfirman:

 اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مَّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ 

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, serta (menjadikan tuhan pula) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sekutukan."

Ketika ayat ini dibacakan di hadapan Adi bin Hatim—sahabat Nabi yang dulunya seorang pendeta Nasrani—ia lantas protes kepada Rasulullah SAW dengan berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya mereka tidak menyembah para pendeta dan rahib itu."

Apa jawaban Nabi SAW? Beliau bersabda: "Bukankah para pendeta dan rahib itu menghalalkan bagi mereka apa yang diharamkan Allah, lalu mereka mengikutinya menghalalkan? Dan mereka mengharamkan bagi mereka apa yang dihalalkan Allah, lalu mereka mengikutinya mengharamkan? Itulah bentuk penyembahan mereka kepada para pendeta dan rahib tersebut." (HR. Tirmidzi).

Bayangkan betapa telaknya sindiran syariat ini. Ketika seseorang menelan mentah-mentah aturan, fatwa, atau doktrin kelompok tanpa pernah mau mengecek kesesuaiannya dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, ia sejatinya sedang menempatkan figur manusia setara dengan pemegang otoritas mutlak penentu halal dan haram.

Ironisnya, orang-orang yang gemar bertaklid buta ini biasanya paling rajin mengutip ayat-ayat atau hadis tentang pentingnya menuntut ilmu. Tapi begitu akal itu benar-benar harus dipakai untuk menguji pendapat sang idola, mereka mendadak ciut. Otak yang harusnya difungsikan sebagai mesin pemikir kritis, diubah fungsi secara tragis menjadi tempat sampah penampung segala dogma. Tokoh yang diagungkan bersabda A, diamini tanpa saring. Besok, gara-gara kepentingan politik atau dinamika internal, tokoh itu meralat ucapannya jadi B, buru-buru mereka memutar balik logika demi tetap bisa membela sang junjungan tanpa merasa berdosa telah menelan ludah sendiri.

Al-Qur'an secara konsisten mengecam sikap malas berpikir dan mengekor secara buta ini. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 170:

 وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُفُوهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ 

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,' mereka menjawab: '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami.' Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?

Sampai kapan mau jadi manusia remote control? Dipencet tombol marah oleh petinggi ormas, langsung ngamuk di kolom komentar menyerang sesama muslim. Dipencet tombol takzim, langsung tunduk tanpa jeda meski yang disampaikan melenceng dari prinsip kebenaran yang lurus. Akal sehatmu sudah mati di kandang ormas, tersandera oleh rasa takut dikucilkan dari kelompok.

Sadarlah, para kiai, ulama, habib, atau pimpinan ormas yang kalian agungkan setengah mati itu tidak pernah meminta kalian untuk mematikan otak. Mereka adalah manusia biasa yang berijtihad dengan segala keterbatasan kapasitas manusiawi, berjuang, dan terkadang—ya—bisa keliru juga. Menghormati ulama dan guru adalah bagian dari adab mulia dalam Islam, tapi menyerahkan akal sehat secara mutlak dan membabi buta membela pendapat personal mereka adalah bentuk pengkhianatan paling telak terhadap dirimu sendiri.

Tuhan menganugerahi kepala di atas lehermu bukan sekadar buat dudukan peci, sorban, atau topi atribut ormas. Ada kepala yang harus diisi dengan data ilmu yang benar, ada otak yang harus dipakai menimbang dengan neraca keadilan, dan ada hati nurani yang harusnya risih dan berontak saat melihat kebenaran dipelintir demi memuaskan ego sektoral golongan.

Sekarang, coba telan ludahmu dalam-dalam. Tengok ke dalam cermin, lalu tanyakan pada dirimu yang paling jujur: Apakah kamu benar-benar mencari kebenaran yang diridai Tuhan di akhirat nanti, atau kamu sebenarnya hanya ketakutan setengah mati kehilangan zona nyaman sebagai domba penurut di dalam kandang kelompok?

Sudah saatnya melepaskan ikatan buta yang membelenggu nalar itu. Berhentilah menggantungkan keselamatan akhiratmu pada fatwa manusia yang penuh dengan potensi khilaf. Kembalilah pada sumber kebenaran mutlak yang tidak pernah salah, tidak lekang oleh zaman, dan tidak bisa disetir oleh kepentingan golongan: Al-Qur'an dan Sunnah Nabi.

Allah SWT berpesan dengan sangat tegas dalam Surah An-Nisa ayat 59 agar kita selalu mengembalikan segala perselisihan kepada sumber yang otentik:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا 

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnah-nya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya"

perhatikan kalimat ini: "jika kamu berbeda pendapat... kembalikanlah kepada Allah dan Rasul." Ayat ini tidak menyuruh kita mengembalikan perselisihan kepada ormas A, kelompok B, atau fatwa kiai si fulan, melainkan kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Ini sama sekali bukan berarti kita menolak atau merendahkan ulama. Sebaliknya, ulama sejati dan pewaris para nabi justru adalah mereka yang tidak pernah rela umatnya bergantung pada tokoh mereka, melainkan menuntun tangan umatnya untuk kembali kepada dalil, merujuk langsung kepada firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Perhatikan bagaimana para imam mazhab besar terdahulu mewanti-wanti pengikutnya agar tidak bertaklid buta kepada mereka. Imam Malik bin Anas pernah berpesan: "Setiap orang perkataannya bisa diterima atau ditolak, kecuali penghuni kubur ini"—sambil menunjuk makam Rasulullah SAW.

Imam Abu Hanifah bahkan dengan tegas melarang murid-muridnya mengambil pendapat beliau jika mereka tidak tahu dari mana sumber atau dalil beliau mengambil hukum tersebut. Lantas, mengapa hari ini kita justru lebih fanatik pada pendapat seorang tokoh ketimbang sumber utama ajaran Islam itu sendiri? Imam Syafi'i juga menegaskan: "Jika sebuah hadis itu sahih, maka itulah mazhabku."

Uji setiap pendapat manusia, fatwa ormas, dan doktrin kelompok dengan timbangan Al-Qur'an dan Sunnah. Jika selaras, terimalah karena kekuatannya ada pada dalil, bukan pada siapa yang mengucapkan. Tapi jika bertentangan, campakkan jauh-jauh meski yang mengucapkannya adalah orang yang paling kamu hormati di muka bumi ini.

Sebab kalau kamu masih memilih untuk menjadi pembebek yang bangga dengan kebodohan kolektif dan kefanatikan golongan, jangan pernah kaget kalau kelak di hari kiamat, barisan ormas, tokoh, dan pimpinan yang kamu puja-puja itu lari terbirit-birit menyelamatkan diri mereka sendiri, sebagaimana firman Allah dalam Surah Abasa ayat 34 hingga 37:

"Ingatlah pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya."

Di hari itu, kamu harus berdiri sendirian memikul beban atas matinya nalar kritis dan penolakanmu terhadap petunjuk Allah yang sebenarnya sudah terbentang jelas di depan mata. Bongkar kandang taklid itu, ambil kembali kepalamu, dan jadikan Al-Qur'an serta Sunnah sebagai kompas tunggal perjalanan hidupmu.

Bagikan Kebaikan Ini: