Manusia sering kali menjadi makhluk yang menciptakan kegaduhan di muka bumi. Jiwanya seakan enggan merasa cukup dengan apa yang telah digenggam. Nafsunya terus mendorong pada keburukan, sementara egonya membimbing perlahan menuju kebinasaan. Demi memuaskan ambisi, manusia kerap kali menutup mata atas apa pun yang telah ia injak-injak. Ia tidak lagi memedulikan halal-haramnya harta yang dikeruk, lalu membiarkan kerakusan mengambil alih kemudi hidupnya.
Jebakan Konsumerisme dalam Dunia Modern
Hiruk-pikuk dunia modern telah melenakan manusia dalam pusaran gaya hidup yang serba berlebihan. Selalu membuang harta untuk hal tidak berguna. Pola pikir mereka didoktrin oleh gengsi dan standar kehidupan elite, hingga mencabut jati diri mereka yang sebenarnya. Ironisnya, mereka jauh lebih mengenali seluk-beluk kehidupan para influencer dan selebgram idola ketimbang mengenali diri mereka sendiri. Sikap konsumtif ini memicu siklus tanpa akhir: membeli, membeli, dan membeli. Mereka rela menumpuk tagihan yang menjerat demi membayari barang-barang mewah yang sama sekali tidak dibutuhkan.
Ya, inilah realita hari ini—sebuah potret kehidupan yang cuma tahu mengonsumsi tanpa mau berkreasi. Di titik inilah manusia tanpa sadar menghambakan diri dan menjadi budak dari tren yang merusak.
Perbandingan Hakikat Dunia dan Akhirat
Padahal, semua kemegahan semu ini tidak ada apa-apanya jika diukur dengan keabadian. Terkait hakikat ini, Rasulullah SAW telah memberikan perumpamaan yang sangat benderang dalam sabdanya:
"Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali laksana seseorang di antara kamu mencelupkan jarinya ini ke dalam sungai. Maka lihatlah apa yang bisa dibawa oleh jarinya itu." (HR. Muslim)
Maka janganlah kita menjadi manusia yang celaka seperti gambaran di atas. Sungguh, jika kita melihat sekitar kita, para orang sukses itu hanya menghabiskan hartanya untuk hal yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Sementara ajaib sekali, orang yang tidak mampu malah suka sekali pamer, suka sekali mubazir, bahkan takabur. Padahal Rasulullah SAW bersabda:
"Tiga orang yang Allah enggan berbicara dengan mereka pada hari kiamat kelak, tidak akan membersihkan mereka daripada dosa, dan tidak sudi memandang muka mereka. Bagi mereka disiapkan siksa yang sangat pedih: orang tua yang berzina, penguasa yang suka berdusta, dan fakir miskin yang takabur (sombong)." (HR. Muslim)
Islam Mengajarkan Kehidupan yang Seimbang (Zuhud)
Dalam kehidupan di dunia kita tidak perlu berlebihan. Bahkan dalam beragama pun kita dilarang berlebihan seperti rahib-rahib Yahudi dan Nasrani yang mengharamkan kenikmatan dunia atas dirinya. Rasulullah mengajarkan kita untuk menjalani dunia ini dengan genre kehidupan yang minimalis (zuhud), yaitu seimbang antara dunia dan akhirat, seimbang antara ibadah kepada Allah dan hubungan sosial antarmanusia.
Dari Abu al-Abbas, Sahl bin Sa'ad as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
"Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang jika aku mengamalkannya, niscaya aku dicintai oleh Allah dan dicintai oleh manusia.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintaimu.'" (HR. Ibn Majah)
Potret Minimalisme Modis hingga Kesehajaan Rasulullah SAW
Dalam kehidupan modern, teladan hidup minimalis telah dicontohkan oleh Mark Zuckerberg, salah satu CEO paling kaya di dunia. Dia adalah orang kaya yang hidup bersahaja. Dia sering kali tampil di depan publik hanya memakai baju yang sederhana. Bahkan penemu Facebook ini pernah tinggal di kamar apartemen dengan kasur tergeletak di lantai. Berapa kekayaannya? 206 miliar USD! Namun, dia lebih memilih hidup tenang dengan semua yang dimilikinya.
Rasulullah pun telah mencontohkan gaya hidup minimalis ini jauh sebelum minimalisme terkenal. Pernah suatu hari Umar bin Khattab memasuki rumah Nabi, beliau kemudian menangis ketika melihat perabotan rumah beliau yang cuma ada setumpuk gandum di sudut ruangan dan alas tidur yang kasar yang bisa membuat punggung berbekas saat bangun tidur.
Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi mengisahkan bahwa Rasulullah selama hidupnya menjadi utusan Allah, beliau tidak pernah menikmati roti yang halus teksturnya. Bahkan pernah tiga hari kompor rumah beliau tidak pernah menyala karena pada saat itu beliau hanya memiliki roti dan air saja.
Suatu ketika Rasulullah pulang ke rumahnya dan meminta kepada istrinya untuk menyiapkan makanan. Namun, tidak ada lagi makanan tersisa, maka Rasulullah memutuskan untuk berpuasa agar laparnya hari ini berbuah pahala.
Apakah Rasulullah tidak mampu membeli makanan? Apakah Nabi melakukan hal tersebut karena beliau itu miskin? Tidak. Beliau pekerja keras yang sukses, beliau memiliki kebun kurma yang luas, bahkan beliau memberikan mahar yang besar kepada istri-istri beliau.
Pertanggungjawaban Harta di Hadapan Allah SWT
Allah telah memberikan kekuasaan kepada Nabi Muhammad. Bisa saja beliau memanfaatkannya untuk beliau sendiri, namun begitulah beliau, selalu menghabiskan hartanya untuk bersedekah. Padahal beliau telah dijamin masuk surga. Lantas kenapa kita yang belum pasti selamat dari azab malah tetap menghamburkan harta untuk hal sia-sia? Rasulullah bersabda:
"Setiap hamba tidak akan bergeser kedua kakinya sebelum ditanya tentang empat hal utama: umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan." (HR. At-Tirmidzi)
Makna Kebahagiaan Sejati
Esensi minimalisme Islami yang dicontohkan Rasulullah adalah sedikitnya materi justru membuka banyak peluang menuju hal-hal bermanfaat dan kebaikan esensial lainnya. Sebagaimana zuhud akan membuat hubungan antarmanusia lebih bermakna, maka kerakusan akan membuat semuanya berantakan.
Rasulullah juga membuktikan bahwa kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya harta yang kita miliki, bukan pula popularitas yang tinggi. Namun, kebahagiaan sejati adalah kelembutan hati untuk bersyukur dan merasa cukup atas nikmat yang Allah berikan.